Pramac Racing yang pernah mencatat sejarah manis di MotoGP 2024 kini tengah menghadapi fase sulit. Dua musim setelah meraih gelar juara dunia bersama Jorge Martin, performa tim ini justru terpuruk di awal musim 2026. Hasil buruk di MotoGP Thailand yang digelar di Sirkuit Buriram jadi bukti nyata bahwa keputusan besar mereka meninggalkan Ducati dan beralih ke Yamaha mulai dipertanyakan.
Tak hanya gagal menembus posisi papan atas, Jack Miller dan Toprak Razgatlioglu bahkan harus puas finis di urutan 17 dan 18. Jarak yang sangat jauh dari podium, apalagi dari podium juara. Tampaknya, pilihan untuk pindah ke Yamaha belum memberi hasil yang diharapkan, justru malah membawa Pramac ke jurang krisis performa.
Performa Buruk di Buriram Jadi Cerminan Masalah Lebih Dalam
Hasil MotoGP Thailand 2026 memperjelas bahwa Pramac sedang mengalami krisis serius. Dua pembalap utama gagal menunjukkan performa kompetitif, dan motor Yamaha YZR-M1 yang diusung belum mampu menyaingi barisan depan. Keputusan strategis yang diambil dua musim lalu kini mulai dipertanyakan, terutama oleh pihak internal dan penggemar yang mengikuti perkembangan tim ini.
1. Jack Miller Gagal Temukan Ritme Balapan
Miller, yang diharapkan menjadi andalan utama Pramac, justru terlihat kesulitan sepanjang balapan. Ia finis di posisi 17 dengan jarak lebih dari 47 detik dari pemenang. Performa ini jauh dari ekspektasi, mengingat Miller sebelumnya dikenal sebagai pembalap yang cukup konsisten dan agresif.
2. Toprak Razgatlioglu Debut dengan Performa Mengecewakan
Meski mendapat pujian atas debutnya di MotoGP Thailand 2026, Toprak Razgatlioglu juga tak mampu menembus posisi depan. Ia finis di urutan 18, menunjukkan bahwa adaptasi dengan motor baru masih jauh dari sempurna. Sebagai rookie, tekanan untuk langsung bersaing di level tinggi memang tinggi, tapi hasil ini jelas belum memenuhi standar tim.
3. Masalah Mesin V4 Yamaha Belum Teratasi
Salah satu alasan utama Pramac pindah ke Yamaha adalah harapan akan pengembangan mesin V4 yang lebih kompetitif. Namun, hingga awal musim 2026, belum ada indikasi bahwa motor YZR-M1 telah mengalami lonjakan performa. Justru sebaliknya, motor ini masih tertinggal dari Ducati, Aprilia, dan KTM.
Tren Negatif yang Berlangsung Sejak 2025
Krisis yang terjadi di MotoGP Thailand 2026 bukanlah hal yang tiba-tiba. Sebenarnya, sejak musim lalu, performa Pramac sudah mulai menurun. Dengan kombinasi pembalap Jack Miller dan Miguel Oliveira, tim ini hanya mampu mengumpulkan 125 poin sepanjang musim 2025, finis di posisi paling bawah klasemen tim.
| Musim | Pembalap Utama | Total Poin | Posisi Klasemen Tim |
|---|---|---|---|
| 2024 | Jorge Martin | 409 | Juara 1 |
| 2025 | Jack Miller, Miguel Oliveira | 125 | Terakhir |
| 2026 | Jack Miller, Toprak Razgatlioglu | – | Belum ada (hasil Buriram buruk) |
Tabel di atas menunjukkan betapa dramatisnya perubahan yang terjadi. Dari puncak kejayaan ke dasar jurang hanya dalam dua musim. Ini bukan sekadar kebetulan, tapi lebih pada akumulasi keputusan strategis yang ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Alasan di Balik Keputusan Pindah dari Ducati
Pramac Racing memutuskan untuk meninggalkan Ducati pada akhir 2024, setelah Jorge Martin hengkang ke Aprilia. Pindahnya Martin dianggap sebagai akhir dari era emas tim ini bersama Ducati. Sebagai gantinya, Pramac menjalin kemitraan dengan Yamaha, yang saat itu tengah mengembangkan mesin V4 generasi baru.
1. Harapan pada Pengembangan Motor Yamaha
Pramac berharap bahwa dengan bergabung dengan Yamaha, mereka bisa menjadi bagian dari proyek pengembangan jangka panjang. Yamaha sendiri membutuhkan tim satelit yang kuat untuk mempercepat proses pengembangan motor, terutama dalam menghadapi dominasi Ducati dan Aprilia.
2. Keinginan untuk Jadi Tim Utama Yamaha
Dengan status sebagai tim satelit yang punya performa terbaik di kelas independen, Pramac punya peluang untuk naik kelas menjadi tim pabrikan Yamaha. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan bahwa motor Yamaha belum siap bersaing di level tertinggi.
Tekanan dari Dalam dan Luar Tim
Krisis yang sedang terjadi bukan hanya soal hasil di lintasan. Ada tekanan internal yang mulai terasa. Dari luar, penggemar dan media mulai mempertanyakan keputusan pindah dari Ducati. Di dalam tim, pembalap dan manajemen mungkin juga mulai meragukan arah yang diambil.
1. Ekspektasi Tinggi dari Fabio Quartararo
Fabio Quartararo, sebagai pembalap utama Yamaha, sempat menyampaikan harapan tinggi terhadap kolaborasi dengan Pramac. Ia berharap kehadiran tim ini bisa mempercepat pengembangan motor. Tapi kenyataan di lapangan belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
2. Kontras dengan Performa Ducati
Sementara itu, Ducati justru terus tampil konsisten di barisan depan. Motor Desmosedici masih menjadi ancaman besar bagi semua tim. Ini menciptakan kontras yang sangat tajam antara performa lama Pramac saat masih bersama Ducati dan kondisi mereka saat ini.
Proyek Jangka Panjang atau Investasi yang Salah Arah?
Yamaha sendiri telah menyatakan bahwa proyek pengembangan motor V4 ini adalah investasi jangka panjang. Namun, di dunia MotoGP yang kompetitif, hasil instan tetap menjadi parameter utama. Jika tren negatif terus berlanjut, tekanan terhadap manajemen Pramac dan Yamaha akan semakin besar.
1. Tantangan di Musim 2026
Musim 2026 masih panjang, tapi awal yang buruk bisa menjadi awal dari musim yang sangat sulit. Jika tidak ada perubahan signifikan, baik dari sisi motor maupun strategi tim, Pramac bisa saja kembali finis di posisi bawah klasemen.
2. Potensi Evaluasi Ulang Strategi
Jika performa tetap stagnan hingga pertengahan musim, bukan tidak mungkin Pramac akan mulai mempertimbangkan kembali keputusan mereka. Termasuk kemungkinan untuk kembali ke Ducati atau menjalin kerja sama dengan pabrikan lain.
Kesimpulan: Keputusan Pindah Masih Jadi Tanda Tanya
Keputusan Pramac Racing meninggalkan Ducati dan bergabung dengan Yamaha kini benar-benar berada di bawah sorotan tajam. Hasil MotoGP Thailand 2026 hanya memperkuat keraguan terhadap arah tim ini. Dari juara dunia menjadi tim papan bawah dalam waktu singkat, perjalanan Pramac jelas menunjukkan betapa cepatnya dinamika MotoGP berubah.
Musim 2026 akan menjadi ujian sejati apakah proyek Yamaha bersama Pramac layak diteruskan atau justru perlu direvisi total. Yang jelas, tekanan sudah mulai terasa, dan waktu untuk memperbaiki diri tidak banyak lagi.
Disclaimer: Data dan hasil yang disebutkan dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026. Hasil balapan dan keputusan tim bisa berubah seiring perkembangan musim.