Guenther Steiner, mantan bos tim Haas di Formula 1, resmi memulai babak baru dalam kariernya di dunia balap. Kini, ia menjabat sebagai CEO tim MotoGP Tech3 KTM, mengambil alih kepemimpinan dari Herve Poncharal. Kehadirannya di paddock MotoGP Thailand 2026 langsung jadi sorotan, bukan cuma karena statusnya di F1, tapi juga karena pandangan segarnya soal perbedaan MotoGP dan F1.
Steiner memimpin konsorsium investor yang juga didukung pembalap Pierre Gasly dalam akuisisi Tech3 di paruh akhir 2025. Ia kini bekerja sama dengan Richard Coleman yang menjabat sebagai team principal. Dengan pengalaman panjang di F1, Steiner membawa pendekatan baru ke dunia roda dua.
Perbedaan Skala dan Struktur Tim
Salah satu hal pertama yang langsung terasa oleh Steiner adalah beda ukuran tim antara MotoGP dan Formula 1. Di F1, tim besar bisa punya lebih dari seribu orang yang tersebar di berbagai divisi, mulai dari aerodinamika, strategi, hingga pengembangan mesin. Di MotoGP, jumlahnya jauh lebih sedikit dan struktur lebih ringkas.
Bukan berarti lebih mudah, tapi lebih padat dan intens. Steiner menyebut bahwa meski jumlah personel lebih sedikit, kompleksitas tetap tinggi. Tekanan waktu, anggaran, dan ekspektasi tetap sama besar.
Tantangan Adaptasi di MotoGP
Meski punya pengalaman di F1, Steiner mengakui bahwa transisi ke MotoGP bukan perkara yang bisa disepelekan. Di F1, ada batas anggaran ketat yang memaksa tim untuk berinovasi dalam keterbatasan. Di MotoGP, regulasi finansial lebih fleksibel, tapi justru itu menuntut efisiensi dalam penggunaan sumber daya yang terbatas.
Ia menyebut bahwa bekerja dengan tim yang lebih kecil berarti setiap orang harus punya peran yang lebih besar dan lebih fleksibel. Semua harus cepat beradaptasi, karena di dunia balap, waktu tidak pernah cukup.
Debut yang Tidak Mulus di Buriram
Awal musim belum berjalan mulus untuk Tech3 di bawah kepemimpinan Steiner. Di MotoGP Thailand 2026, pembalap Maverick Vinales dan Enea Bastianini gagal menembus 10 besar. Vinales sendiri langsung buka suara soal performa motor RC16 yang belum maksimal, meski hasil tes pramusim di sirkuit yang sama cukup menjanjikan.
Sementara itu, Bastianini menjadi pembalap terbaik tim di sirkuit Buriram, meski tetap belum bisa bersaing di barisan depan. Di sisi lain, pembalap KTM lainnya, Pedro Acosta, tampil lebih konsisten dengan motor yang sama. Ini menunjukkan bahwa masalah bukan hanya pada motor, tapi juga pada adaptasi tim dan strategi balapan.
Strategi Pengembangan yang Berbeda
Salah satu hal yang menarik dari pengalaman Steiner adalah pendekatannya terhadap pengembangan motor. Di F1, pengembangan sangat ketat diatur dan harus dilakukan dalam batas waktu tertentu. Di MotoGP, pengembangan bisa dilakukan sepanjang musim, memberikan ruang lebih besar untuk improvisasi.
Steiner menyebut bahwa fleksibilitas ini bisa jadi senjata ganda. Di satu sisi, tim bisa terus mengembangkan motor. Di sisi lain, jika tidak dikelola dengan baik, bisa malah membuang waktu dan sumber daya.
1. Evaluasi Performa Awal Tim
Setelah debut yang kurang memuaskan di Thailand, Steiner memulai evaluasi menyeluruh terhadap performa tim. Ia meninjau data balapan, masukan dari pembalap, dan kondisi motor secara keseluruhan. Evaluasi ini penting untuk menentukan langkah pengembangan selanjutnya.
2. Penyelarasan Visi dengan Pembalap
Steiner memahami bahwa kemenangan di MotoGP tidak hanya soal teknologi, tapi juga sinergi antara tim dan pembalap. Ia mulai membangun komunikasi yang lebih intens dengan Vinales dan Bastianini untuk memahami kebutuhan mereka di atas lintasan.
3. Optimasi Struktur Tim
Meski jumlah personel lebih sedikit, Steiner fokus pada efisiensi kerja. Ia mengatur ulang struktur tim agar setiap anggota punya peran yang jelas dan bisa berkontribusi maksimal. Kolaborasi antar divisi juga ditingkatkan untuk mempercepat pengambilan keputusan.
Perbandingan Regulasi F1 dan MotoGP
| Aspek | Formula 1 | MotoGP |
|---|---|---|
| Jumlah Personel | Ratusan hingga >1000 | 50-100 orang |
| Batas Anggaran | Ketat (budget cap) | Lebih fleksibel |
| Pengembangan Motor | Terbatas waktu dan frekuensi | Fleksibel sepanjang musim |
| Tekanan Waktu | Tinggi, terstruktur | Tinggi, tapi lebih dinamis |
Tantangan Jangka Panjang
Musim 2026 masih panjang, dan Steiner tahu bahwa hasil beberapa balapan ke depan akan jadi tolok ukur apakah pendekatan yang diambil bisa membawa Tech3 ke level yang lebih kompetitif. Ia tetap realistis, tapi optimis bahwa tim bisa bangkit.
Penutup: Inti Balap Tetap Sama
Meski beda roda, beda lintasan, dan beda regulasi, Steiner menegaskan bahwa inti dari balap tetap sama. Tekanan, ambisi, dan keinginan untuk menang adalah hal yang universal. Yang berbeda hanyalah cara mencapainya.
Dengan pengalaman di F1 dan semangat baru di MotoGP, Steiner punya kesempatan untuk menulis babak baru dalam sejarah Tech3. Dan meski awalnya tidak mulus, perjalanan ini baru saja dimulai.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini didasarkan pada data dan pernyataan hingga Maret 2026. Hasil balapan, regulasi, dan kondisi tim bisa berubah sewaktu-waktu.