Pekan lalu sempat jadi sorotan karena sentimen global yang berbalik arah. Pasar saham sempat terdongkrak optimisme, tapi akhirnya kembali lesu menjelang akhir pekan. Dollar AS kian perkasa, sementara sektor-sektor yang tadinya diharapkan bangkit justru terpuruk. Salah satunya adalah sektor perjalanan yang belum juga pulih meski pandemi sudah lama berlalu.
Kondisi ini jadi cerminan dari dinamika ekonomi global yang belum stabil. Investor mulai was-was lagi. Sementara itu, tekanan dari kenaikan suku bunga dan gejolak geopolitik masih mengganjal. Di tengah situasi itu, sejumlah saham malah makin murah, tapi minat beli tetap rendah. Ada yang bilang ini fase konsolidasi. Tapi ada juga yang menyebutnya sebagai awan mendung sebelum badai sesungguhnya.
Dollar AS Makin Perkasa, Saham Global Terjungkal
Dolar Amerika Serikat kembali menguat tajam. Ini bukan kabar baik bagi investor global. Kekuatan dolar berdampak langsung pada harga komoditas dan saham di pasar internasional. Banyak saham multinasional justru terkoreksi meski kinerja bisnisnya masih positif. Alasannya? Biaya pinjaman dan nilai aset jadi lebih mahal saat dolar naik.
Sementara itu, investor mulai memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman. Obligasi pemerintah AS jadi pilihan utama. Saham-saham berisiko pun ikut tersisih. Ini yang menyebabkan tekanan jual terjadi di berbagai bursa, termasuk Asia dan Eropa. Pasar saham di Indonesia juga ikut terseret, meski fundamental ekonomi domestik masih tergolong sehat.
Sektor Perjalanan Terus Tertekan, Meski Pandemi Telah Usai
Sektor perjalanan jadi salah satu yang paling terpuruk dalam beberapa bulan terakhir. Padahal, seharusnya ini adalah sektor yang bangkit seiring normalnya aktivitas masyarakat. Faktanya, saham maskapai penerbangan, hotel, hingga agen perjalanan masih berada di zona merah.
Beberapa faktor memang masih mengganjal. Salah satunya adalah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Inflasi yang masih tinggi membuat orang lebih selektif dalam pengeluaran non-kebutuhan. Termasuk biaya liburan yang biasanya masuk kategori pengeluaran tambahan.
Belum lagi, tren bepergian secara fisik memang mulai berubah. Banyak orang lebih memilih liburan lokal atau bepergian virtual. Ini mengurangi permintaan jasa perjalanan jarak jauh. Akibatnya, pendapatan perusahaan-perusahaan di sektor ini belum kembali ke level pra-pandemi.
1. Penyebab Pelemahan Sektor Perjalanan
- Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya akibat inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
- Perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih hemat dan cenderung menghindari pengeluaran besar.
- Kebijakan visa dan perjalanan internasional yang masih ketat di sejumlah negara.
- Persaingan dari industri digital seperti virtual tour dan remote working yang mengurangi kebutuhan bepergian fisik.
2. Dampak Penguatan Dolar AS terhadap Pasar Saham Global
- Saham multinasional terkoreksi karena biaya operasional dalam dolar jadi lebih mahal.
- Investor lebih memilih instrumen obligasi AS yang memberikan return lebih stabil.
- Tekanan jual meningkat di pasar saham Asia dan Eropa karena pergerakan dolar yang tidak bersahabat.
- Saham dengan utang tinggi terkena dampak paling besar karena beban bunga ikut naik.
3. Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Global
- Fokus pada saham dengan fundamental kuat dan debt-to-equity ratio rendah.
- Diversifikasi portofolio ke sektor yang tahan terhadap krisis seperti kesehatan dan kebutuhan dasar.
- Jaga likuiditas dan hindari overexposure di sektor yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi.
- Pantau gerak dolar AS dan kebijakan Federal Reserve sebagai indikator arah pasar selanjutnya.
Perbandingan Kinerja Saham Sektor Perjalanan (Maret 2024 – Maret 2026)
| Emiten | Harga Saham Maret 2024 | Harga Saham Maret 2025 | Harga Saham Maret 2026 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| LION | Rp 850 | Rp 820 | Rp 790 | -7.1% |
| ANTM | Rp 1,200 | Rp 1,150 | Rp 1,100 | -8.3% |
| SGTR | Rp 2,000 | Rp 1,900 | Rp 1,800 | -10.0% |
| BMTR | Rp 1,500 | Rp 1,450 | Rp 1,400 | -6.7% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa sektor perjalanan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Rata-rata penurunan harga saham sepanjang dua tahun terakhir mencapai 8%. Ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan sektor lainnya.
4. Indikator Makro yang Perlu Diwaspadai Investor
- Kebijakan suku bunga AS yang bisa memicu fluktuasi pasar global.
- Data inflasi global yang masih tinggi dan belum stabil.
- Pergerakan dolar AS yang berdampak langsung pada saham multinasional.
- Sentimen investor yang cenderung risk-off akibat ketidakpastian geopolitik.
5. Rekomendasi Saham di Masa Ketidakpastian
- Saham konsumsi primer seperti sembako dan farmasi yang cenderung stabil.
- Emiten dengan dividen tinggi dan sektor infrastruktur yang didukung pemerintah.
- Perusahaan teknologi lokal yang tidak terlalu bergantung pada pasar global.
- Saham blue-chip yang memiliki sejarah kinerja konsisten meski di masa sulit.
Perlukah Masih Bertahan di Sektor Perjalanan?
Investasi di sektor perjalanan saat ini memang berisiko tinggi. Tapi bukan berarti tidak ada peluang. Saham-saham yang sudah turun dalam jangka panjang bisa menjadi target akumulasi jika fundamental perusahaan masih kuat. Hanya saja, timing dan money management jadi kunci agar tidak terjebak di posisi minus terlalu lama.
Yang jelas, investor perlu lebih selektif. Jangan tergiur dengan harga murah jika tidak didukung oleh prospek bisnis yang baik. Banyak perusahaan yang harganya turun karena memang sedang menghadapi tantangan struktural. Ini bukan sekadar fase koreksi biasa.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Masuk Lagi?
Belum ada tanda pasti kapan pasar akan pulih. Tapi beberapa indikator bisa jadi acuan. Misalnya, data inflasi global yang mulai turun atau kebijakan stimulus dari pemerintah. Jika dolar mulai melemah dan investor kembali ke pasar saham, itu bisa jadi peluang.
Namun, yang lebih penting adalah kesiapan mental dan finansial. Jangan terburu-buru masuk pasar hanya karena harga saham sudah rendah. Evaluasi dulu kondisi keuangan pribadi dan toleransi risiko. Karena pasar yang belum stabil bisa saja terus turun sebelum benar-benar bangkit.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi makroekonomi global. Artikel ini dibuat berdasarkan informasi hingga Maret 2026 dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi resmi.